Home > Cerpen Remaja > Sepeda Tua yang menggema dalam Jiwa

Sepeda Tua yang menggema dalam Jiwa

Mentari bersinar kembali pagi ini, membangunkan setiap insan dari lelapnya malam. Tapi Sang Mentari, tidak pernah mendahului dari terbukanya mata Seorang Pria Tua dengan Sepedanya dan suara yang menggema. Ketika mentari masih belum terlihat menyinari, dirinya telah melangkahkan kaki. Pergi, pergi, dan pergi. Tekat yang kuat didalam hati, membuatnya tidak pernah menghiraukan lelah nya hidup yang harus dijalani.

Sepeda Tua yang menggema dalam Jiwa - Image by Pixabay
Sepeda Tua yang menggema dalam Jiwa – Image by Pixabay

    Kakek George, begitulah di panggilnya dia. Sang Kakek yang telah rentan usia, berupaya hanya demi menyambung hidupnya. Dengan sepeda tuanya dan loncengnya yang menggema, dia berkeliling kota menjajakan jasanya untuk perbaiki sepatu orang-orang di sekitar nya. Tidak banyak yang bisa didapatkannya, tapi tak pernah terdengar keluhan dari mulutnya.

    Tak pernah dirinya meminta belas kasihan dari sekitarnya. Tetesan peluh yang membasahi tubuh tua nya, menjadi kehormatan tersendiri bagi dirinya. Dari pada meminta-minta, dirinya ingin terus berusaha, semampu yang dapat dilakukannya.

    Ketika hari sudah berganti menjadi siang, kakek George seringkali berteduh dibawah pohon besar di pinggiran kota. Menyandarkan tubuhnya sejenak, mengumpulkan kembali tenaga untuk melanjutkan mengayuh sepeda tua nya, sambil melayangkan pandangannya jauh ke depan. Nampak, ada yang mengusik dalam hatinya.

    Bukanlah keletihan, bukan juga perjuangan, tapi rasa kesendirian lah yang menjadi beban berat dalam hati Kakek George ini. Anak-anaknya yang kini entah berada dimana, kabarpun tak diterimanya dari mereka. Sang Pujaan hati yang juga telah kembali ke Sisi-Nya, meninggal kan dirinya sebatang kara melalui kehidupan yang keras adanya. Kerinduan yang begitu mendalam, tapi apalah daya nya yang tak sanggup berbuat apa-apa.

    Di tengah-tengah lamunan nya, tiba-tiba terdengar suara, ” Kakek.. kakek.. kakek George.” Suara kecil mungil yang menyapa nya, membangunkan dirinya dari lamunan kekosongan yang ada. Suara itu adalah suara Angeline, si gadis kecil yang berusia 8 tahun, anak dari seorang penjual toko kelontong di kota itu, yang begitu akrab dengan kakek George. Setiap kakek George mengambil waktu untuk beristirahat, Angeline selalu datang, dengan membawa makanan dan minuman seadanya untuk Sang Kakek. Sambil mendengarkan cerita-cerita dari Kakek George yang sangat disukainya.

    Kehadiran Angeline menjadi sesuatu yang berharga bagi diri Kakek George. Kehadirannya sedikit mengobati luka kerinduan yang mendalam yang Kakek George rasakan. Kehadiran Angeline mengingatkannya kepada cucu-cucu nya yang telah lama dia tak berjumpa.

    Sambil menikmati bekal yang Angeline bawa, Kakek George mulai menceritakan kisah-kisah menarik kepada Angeline. Sampai tak terasa waktu yang berlalu, memaksa Kakek George untuk berpamitan karena hendak kembali melanjutkan pekerjaannya. Kebersamaan mereka berlangsung begitu indah, dari hari ke hari, bulan ke bulan, bahkan tahun ke tahun.

    Sampai disuatu saat, seperti biasanya, Kakek George mengistirahatkan tubuhnya sejenak dibawah pohon besar di pinggiran kota sebelum akhirnya memulai kembali pekerjaannya. Tapi anehnya, Angeline tidak datang seperti biasanya. Kakek George menunggu dan menunggu, tapi si gadis kecil itu pun tak kunjung-kunjung datang. Ada apa? Pikir Sang Kakek. Dia terus menerus menatap jalan dimana biasanya Angeline datang, tapi tak terlihat apa-apa. Tenggelam lah Sang Kakek dalam lamunannya.

    Waktu pun berlalu, senja nya hari membangunkannya dari lamunan, dinaiki nya sepeda tuanya dan meneruskan perjalanannya. Tapi pikirannya tak tenang, memikirkan Angeline yang telah dianggap sebagai cucunya tak hadir seperti biasanya.

    Hari demi hari, Kakek George lewati seperti biasanya. Dengan berangkat dini hari, berkeliling kota, menjajakan jasa, dan pulang petang hari. Hanya ada satu hal yang berbeda, kemana si Angeline? Renungannya didalam hati. Sudah berhari-hari dia tidak datang menemuinya. Apa yang sebenarnya terjadi? Pikiran nya mulai tidak tenang. Akhirnya, dengan tenaga yang masih ada, petang hari dinaikinya sepeda tuanya, berangkat menuju kota dimana Angeline tinggal. (Kota itu tidak terlalu jauh dari rumah Sang Kakek, dan karena orang tua Angeline adalah penjual toko kelontong di kota, jadi sulit juga menemukannya.)

    Setelah mencari-cari dan bertanya sana-sini. Sampailah Sang Kakek ke rumah si gadis kecil yang telah dianggapnya sebagai cucu nya sendiri itu. Begitu terkejutnya dirinya, ketika melihat si gadis kecil itu sedang terbaring lemah dan tak berdaya karena sakit yang dialaminya. Jadi inikah penyebabnya? Kenapa dia tak lagi datang seperti hari-hari sebelumnya? Pikir Sang Kakek.

    Sang Kakek pun memberanikan diri menemui orang tua Angeline dan menanyakan, ” Apa yang terjadi dengan Angeline? ” Tanya Kakek George. Ayah Angeline pun menjawab, ” Angeline mengalami kerusakan hati, dan dia harus mendapatkan pendonor hati yang baru. Perawatan dari dokter hanya bisa memperpanjang masa hidupnya, tapi penggantian hati yang baru lah yang dapat menyembuhkannya. Tapi sulit sekali menemukan orang yang mau mendonorkan hatinya. Karena resikonya besar bagi dirinya sendiri.”

    Mendengar hal itu, betapa hancur nya perasaan kakek George, seorang gadis kecil yang telah begitu baik kepadanya, dan telah dianggapnya sebagai cucunya sendiri, tengah berjuang melawan hidup dan mati. ” Apa yang bisa ku perbuat untuknya? ” Perenungan kakek George di dalam batin nya.

    Sesaat waktu tenggelam dalam perenungannya, Kakek George pun beranjak pergi menemui dokter yang merawat Angeline saat itu. ” Dok, biarkan saya mendonorkan hati saya untuk Angeline ” kata Kakek George. ” Kakek yakin ? Dengan usia rentan kakek, akan sangat besar kemungkinannya pada hidup kakek. ” Ujar dokter menjelaskan. ” Tidak apa-apa dok, saya mengerti, saya telah bertekad hati, biarkan saya yang menanggung resiko yang ada, asalkan bisa memulihkan Angeline kembali. ” Jawab Kakek George. ” Baiklah, saya akan sampaikan kabar ini ke orang tua Angeline. ” (Berlalu pergi meninggalkan Kakek George sendiri.)

    ” Ayah dan Ibu Angeline, bisa saya berbicara dengan kalian sekarang? ” Ujar dokter kepada orang tua Angeline.

” Ya, bagaimana dok? Ada kabar apa? ” ,

 ” Begini, sudah ada seseorang yang bersedia mendonorkan hati nya untuk Angeline. Dia siap melakukannya, dengan segala resiko yang harus diterima. ” ,

 ” Benarkah itu dok ? ” Tanya Sang Ayah dengan penuh kebahagiaan.

” Siapa dia dok ? Bolehkah saya bertemu dengan nya ? “

” Mari, beliau ada di ruangan sebelah. ” Ajak Sang Dokter kepada orang tua Angeline.

    Ketika kedua orang tua Angeline masuk dan melihat siapa yang ada di ruangan itu, betapa terkejutnya mereka, dan berkata ” Kakek George ? Anda kah yang rela mendonorkan hati nya untuk Angeline ? Kenapa kek ? Kenapa kakek mau lakukan itu ? Dokter pasti sudah memberitahu kakek kan, apa resikonya untuk kakek ? ” Tanya sang ayah dengan kebingungan.

    ” Angeline seperti Surya kecil yang mencerahkan hari-hari kakek. Dimana kakek selalu merasa kesepian, menjalani kehidupan dengan kesendirian. Kehadiran Angeline mengubah hal itu, kebaikan hati nya, canda tawa nya, menjadi secercah cahaya dalam kesendirian gelap yang kakek rasakan. Biarlah Surya kecil itu terus bersinar. Tidak ada yang bisa kakek lakukan untuk membalas cahaya yang telah Angeline berikan. Hanya dengan ini. ” Jawab Kakek sambil meneteskan air mata

    ” Biarkan cahaya itu terus bersinar, jangan biarkan itu padam. Kakek siap, asalkan Angeline dapat sehat kembali. ” Lanjutnya sambil tersenyum menatap kedua orang tua Angeline

    ” Tidak ada kata yang bisa kami sampaikan, selain dari pada, ribuan terimakasih untuk kasih kakek kepada Angeline. ” Kata kedua orang tua Angeline, sembari berlutut dan menangis didepan kaki kakek George.

    ” Mari dok, kita lakukan segera, biar Surya kecil itu juga segera bersinar kembali. ” Ucap kakek kepada dokter.

    ” Baik, segera operasi akan dilakukan. ” Ujar dokter. ” Satu pesan ku, sampaikan ucapan terimakasihku dan rasa rindu ku, untuk nya Sang Surya kecil ku. ” Pesan kakek George kepada kedua orang tua Angeline.

    ” Pasti, akan kami sampaikan kepada Angeline saat dia sadar nanti. ” Jawab Sang Ayah kepada Kakek George.

    Menit demi menit.. jam demi jam.. telah berlalu. Dan operasi nya pun telah selesai. Angeline menerima hati yang baru dari Kakek George. Keadaan telah membaik, hanya masih menunggu sampai keadaannya pulih sepenuhnya.

    Lama Angeline melalui perawatan jalan dari dokter. Sampai akhirnya, Angeline si anak kecil yang ceria itu telah kembali seperti sedia kala.

    Suatu hari seperti biasanya, dia menyiapkan makanan dan minuman yang hendak diantarkannya kepada Kakek George seperti dulu sebelum dia terbaring karena sakitnya. Dengan riang dia berjalan, hendak menemui Kakek George yang lama tidak dijumpainya, dan hendak mendengar cerita-cerita dari Sang Kakek yang sangat disukainya.

    Namun, sesampainya dibawah pohon besar dipinggir kota, dia kebingungan, ” Bukan kahdisini tempat Kakek biasa beristirahat? Tak mungkin aku lupa. Tapi, dimana Kakek? Ini jam seperti biasanya dia beristirahat kan? Apa Kakek belum datang? Biarlahku menunggunya disini. “

    Angeline pun duduk disana, dengan wajah yang ceria, menunggu kedatangan Kakek yang dinanti-nanti nya. Dilihat nya ke kanan dan ke kiri. Ke depan dan ke belakang. Tapi, Kakek George tak terlihat datang. ” Kemana Kakek ? ” Ujar gelisah nya di dalam hati.

    ” Angeline.. ” suatu suara yang tiba-tiba membangunkannya dari lamunannya. Siapakah itu? Mungkinkah Kakek George? ” Angeline.. sedang apa kamu disininak? “, Ternyata suara dari ayah Angeline yang mengkuatirkan anaknya. ” Angeline menunggu Kakek George Yah, Kakek yang biasanya menjajakan jasa memperbaiki sepatu, setiap siang Kakek biasanya beristirahat disini, dan Angeline pun selalu datang untuk bertemu dengan Kakek dan mendengar cerita-cerita dari Kakek yang sangat Angeline suka. Tapi entah kenapa hari ini, dia tidak datang. ” Ujar Angeline dengan sedih.

    Lalu sang ayah pun memegang tangan Angeline , ” Mari, ikut ayah sebentar, ayah ingin menunjukkan sesuatu. ” Sembari menggandeng Angeline pergi. Sang Ayah membawanya ke sebuah pemakaman yang memang ada di dekat kota.

    ” Kenapa ayah membawa Angeline kemari ? ” , ” Lihat lah makam ini, dan lihat lah siapa nama yang beristirahat disini. “, Betapa kaget nya hati Angeline ketika membaca nama yang tertulis di batu nisan itu, ” Rest in Piece George ” begitulah tulisannya.

    ” Apa maksudnya ini ayah? ” Tanya Angeline dengan kaget dan kebingungan.

    ” Nak, inilah Kakek George yang kamu nanti-nanti, dia telah pergi, dia tidak akan kembali. ” Jelas Sang Ayah

    ” Ini Kakek? Ayah, apa yang terjadi? Kenapa Kakek ada disini? ” Tanya Angeline dengan air mata yang mulai menetes dengan hati yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya

    ” Nak, saat kamu terbaring sakit, dokter menyatakan bahwa ada kerusakan pada hatimu. Obat dan perawatan yang dokter berikan, hanya bisa memperpanjang hidupmu, tapi tidak bisa menyembuhkan mu. Hanya ada satu cara, yaitu dengan mengganti hatimu dengan yang baru. Tapi, mencari pendonor hati sangatlah susah nak, karena resikonya sangat tinggi terhadap diri seseorang. Ayah dan Ibu telah berputus asa, tapi tiba-tiba Kakek George datang menemui kami. Kakek George mengatakan, dia mau mendonorkan hatinya untuk Angeline apapunresiko yang harus dihadapi. Sekalipun Kakek George tahu, bahwa resikonya membuatnya harus kehilangan hidupnya. Tapi, Kakek George mau melakukan, supaya Angeline bisa kembali sehat dan tersenyum bahagia lagi. “

    ” Tidak mungkin, Kenapa kakek? Kenapa? ” Ucap Angeline sembari memegang makam Kakek George dan menangis dengan sangat.

    ” Kakek George lakukan ini, karena dia mengasihi Angeline. Kakek George memang telah tiada, tapi hati nya masih ada. Hati Kakek George ada disini. ” Sembari menunjuk hati Angeline.

    ” Jangan bersedih lagi, berterima kasih kepada Kakek George. Karena Kakek menyayangi Angeline seperti cucunya sendiri. Sehingga Kakek George lakukan semua ini. Sekarang jaga baik-baik hati Kakek George ya. ” Ujar Sang Ayah kepada Angeline

    ” Kakek, terimakasih untuk kebaikan Kakek untuk Angeline. Sekarang, Kakek tenang disana ya. Doa Angeline selalu untuk Kakek. ” Ujar Angeline sambil berusaha tersenyum

    ” Ya sudah, mari kita pulang. Ibu menunggu kita dirumah. ” Ajak Sang ayah sembari menggandeng tangan Angeline

    ” Iya ayah. Selamat tinggal Kakek. ” Ucap perpisahan Angeline kepada makam Kakek George dan berjalan meninggalkan nya.

    Demikianlah Angeline melalui hari-hari nya dengan ceria. Tapi sosok Kakek George tak pernah dilupa dari ingatannya. Sosok yang telah membuatnya hidup sampai saat ini. Menjadi pahlawan yang tak pernah tergantikan.

    Setiap akhir pekan, Angeline selalu datang ke makam Kakek George untuk melihat, membersihkan, merawat makamnya dan sekedar berbagi cerita-cerita tentang hari-hari yang dia lalui.

    Secerna cahaya dari Surya kecil Angeline telah memberi arti dalam kehidupan Kakek George. Dan kasih serta kerelaan Kakek George untuk Angeline, menjadi kan Surya kecil itu bersinar kembali setelah sempat redup dan hampir padam.

Cerpen Sepeda Tua yang menggema dalam Jiwa adalah cerita pendek karangan Yoshua Hutama. Kategori Cerpen Remaja. Pembaca dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya dengan mengklik namanya.

Silahkan Share Artikel Ini:

About Yoshua Hutama

Logo-Penulis-Cerpen

Check Also

Pencinta Aksara - Image by Pixabay

Pencinta Aksara

Terima kasih telah memberi contoh bahwa tak ada kata menyerah untuk terus hidup dan menghidupkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.