Home / Cerpen / Sagara

Sagara

Aku melihatnya lagi hari ini. Pria itu, yang kuintip berbulan-bulan lewat pintu kaca kantor pribadiku.

Hari ini priaku lagi-lagi tengah berlarian riang bersama para bocah di lapangan rumput di sebrang jalan sana.

Dia tersenyum. Selalu tersenyum. Dan entah sejak kapan bibirku selalu turut mengukir senyum juga untuknya.

Aku melirik cermin kecil diatas meja kerjaku sekali lagi. Mata coklatku menyorot gelisah, wajahku yang kata orang-orang sangat cantik dan berkelas, malah terlihat panik tak jelas di cermin itu. Hari ini aku akan membuat langkah besar. Aku akan mendatangi pria itu dan mengajaknya berkenalan.

Berbulan-bulan aku mempersiapkan hari ini. Dengan beribu pertimbangan dan kegamangan yang menyerangku terus menerus.

Aku, seorang wanita berkarir sukses dan berpendidikan tinggi tak pernah sekali pun menyangka akan takluk begitu saja pada pria asing itu.

Pria yang kulihat pertamakali saat dia menggendong seorang nenek tua renta dan kotor yang terlihat lemah dan kesakitan. Pria yang hanya kutahu sebatas nama panggilannya saja.

Sagara. Nama yang kudapat setelah berbagai macam usaha untuk mencari tahu. Hanya itu yang kudapat.

Setelahnya, dari hari kehari aku terus memperhatikannya tanpa henti. Bagiku, melihatnya sudah menjadi semacam kebutuhan setiap harinya.

Aku selalu menunggu dengan sabar hingga mataku menangkap sosoknya yang tengah terlihat tertawa, menggerak-gerakkan tangan dan sedikit melihatnya berbincang dengan caranya yang istimewa.

Sagara. Nama itu sudah menjadi jendela besar bagi hatiku sejak berbulan-bulan lalu. Berkat priaku, banyak hal baru yang kulihat dan kumengerti dengan cara berbeda. Dia mungkin hanya pria biasa jika terlihat oleh orang lain. Bahkan wajahnya hanya sebatas tampan khas asia yang tampannya tak seheboh para aktor pria. Dia biasa saja, tapi istimewa.

Saat dia tersenyum, matanya yg sedikit sipit seolah ikut menutup tenggelam dalam senyumnya yg penuh keramahan. Dia tinggi, tapi tidak juga kekar.

Dia biasa saja. Tapi tak pernah terlihat biasa untukku.

Hatiku menghangat lagi melihatnya. Hari ini keputusanku sudah bulat. Ada alasannya, tentu saja. Beberapa hari lalu, saat aku terpaku menatapnya hampir tak mau berkedip, dia berbalik melihatku. Terlihat hanya diam mematung kearahku yg kelu. Jarak kami tidak jauh, hanya terhalang jalanan yg tidak terlalu besar di komplek kantorku.

Dia tersenyum kearahku. Lalu mengangguk dengan sopan. Hanya begitu. Tapi bagiku, hari itu jadi awal dimulainya perdebatan hebat dalam hatiku.

Aku ingin mendekat. Dan butuh keyakinan kuat untuk itu.

Aku merapikan rambut panjangku dengan gugup.

Setelah memantapkan hati, kuambil pena dan sebuah note book dimeja kerjaku. Kulangkahkan kaki dengan mantap dan membuka pintu ruangan yg selama ini mengurungku beserta keraguan yg sejak lama melandaku. Aku yakin.. Aku menginginkannya di hidupku.

Priaku… Yang akan kuperjuangkan mulai hari ini.

Aku menahan nafas, dia sedang berdiri didepanku.

Aku menatap punggung berbalut kaos hitam yang tak jauh dari jangkauan tanganku jika kuulurkan.

Aku tersenyum kecil. Dia tidak sadar keberadaanku.

Kuulurkan tanganku dengan gugup untuk menyentuh bahunya. Dia berbalik. Menatap kearahku dengan keterkejutan yg terlintas jelas di wajah tampannya.

Dia tersenyum sopan namun bingung padaku.

Aku menggigit bibirku dan tersenyum malu. Dengan gugup, kubuka halaman pertama notebook merah jambu yang kubawa. Kuarahkan halaman itu padanya dengan wajah menunduk menahan gugup dan berdebar.

‘Hai,, aku Ristia.. Boleh kenalan?’

Itu bunyi tulisan singkat yang sudah kupersiapkan berbulan-bulan demi hari ini.

Aku menatapnya untuk melihat reaksi priaku.

Dia tersenyum begitu manis.Jantungku berdebar kencang didalam sana. Perutku melilit karena gugup dan malu.

Dia meraih notebook merah jambu ditanganku dan menulis sesuatu didalamnya.

‘Hai juga Ristia! Aku Sagara. Senang akhirnya bisa berkenalan denganmu.’

Aku hampir melompat membaca tulisan rapi yg ada dibawah tulisanku tadi.

Dia mengulurkan tangannya.

Aku tergagap dan merasa terharu melihatnya.

Dengan perasaan membuncah penuh kebahagiaan, aku menyambut tangannya dan menggenggamnya erat.

“Ristia.” aku mengucapkan namaku dengan lantang. Aku tahu, dia butuh suara yang cukup keras agar bisa menangkap suaraku.

Dia tersenyum. Lalu perlahan mengangkat tangannya, dan membuat beberapa gerakan untuk mengisyaratkan namanya.

Aku tersenyum haru. Dan mengangguk.

Sagara. Aku tahu dia adalah seorang tunawicara sejak berbulan-bulan yang lalu. Tapi hatiku, tak pernah sekalipun protes pada kenyataan itu. Bagiku, dia istimewa. Seistimewa caranya yang perlahan menarik perhatianku di awal pertemuan kami.

Kutulis sesuatu di notebook penghubung kami.

“Aku mau belajar bahasa isyarat nanti. Tolong tunggu aku dengan sabar.”

Dia mengangkat alis dan terlihat tersipu setelahnya.

Ya Tuhan.. Jantungku..

Dia manis sekali.

Dia menulis juga sesuatu di buku kami.

“Tentu. Kita belajar bersama. Suatu hari, aku ingin melihatmu menyebut namaku dengan bahasa isyarat.”

Aku tersenyum lebar tanpa bisa menahannya.

Aku rasa, hatiku rasanya melambung dan sesak karena terlalu haru dan bahagia.

Dengan nekad, kuulurkan tanganku sekali lagi padanya.

Dia awalnya terlihat bingung, lalu menatapku seolah menelisik maksudku. Aku tersenyum.

Dia menyambut tanganku, lalu tangannya tak bergerak.

Kami berdua terdiam dalam hening. Sama-sama menatap kedua tangan kami yang bertaut.

Dia tersenyum lembut setelahnya.

Aku tak bisa menahan mataku yang terasa panas dan memburam karena desakan air mata penuh suka cita yang kurasakan.

Lalu, sesuatu membuat jantungku melompat lalu berdetak begitu cepat.

Sagara menggenggam tanganku perlahan. Tangannya yang besar melingkupi tanganku dengan hangat.

Dia tersenyum dan tersipu secara bersamaan.

Aku terisak, dan akhirnya luruh kedalam pelukan pria didepanku.

Dia memelukku dengan erat.

Tanpa suara.

Hening.

Namun aku tahu dengan pasti, ada dua jantung yang bergemuruh didalam sana.

Dua detakan keras yang beriringan dalam hening yang terus melingkupi. Detakan milikku… Dan yang sama darinya

Baca juga Cerpen-Cerpen Tia Ayu Lestari yang lainnya, klik : DI SINI

Penulis Cerpen: Tia Ayu Lestari

Facebook: Larasati AndakaWattpad: Samudra_Biru

Dilema Rindu Part 5 <<Cerpen Sebelumnya  |  Cerpen Selanjutnya >> Bunga (Perawan) Part 01

About Tia Lestari

Check Also

Bunga (Perawan) Part 02

Judul Cerpen: Bunga (Perawan) Part 02 Penulis Cerpen: Tia Ayu Lestari Kategori: Cerpen Cinta Aku …

2 comments

  1. Tia

    Ass.. kak maaf aq kbtuln bru buka pas. Cerpen judul SAGARA bkn yg ini isinya. Mohon d cek lg.
    Yg ini judulnya For Alice. .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *