Home > Cerpen > Dilema Rindu (Part 5)

Dilema Rindu (Part 5)

Judul Cerpen: Dilema Rindu (Part 5)

Penulis Cerpen: Silka Kamuning Apriza

Kategori: Cerpen Cinta

Hari ini adalah hari Minggu, merupakan hari libur sekolah, setelah enam hari berkutat di sekolah dengan berbagai mata pelajaran dan ektra praktek tambahan, akhirnya hari Minggu yang ditunggu datanglah sudah. Hari ini aku bangun agak siangan, sah-sah saja bagiku, sedikit memanjakan diri, sambil melamunkan kejadian-kejadian yang sudah lalu, agar kedepannya ada rencana baru atau perbaikan agar dapat menuju ke arah yang lebih baik lagi.

Kubuka tas sekolah ku, walaupun terasa penat dan bosan, karena hari ku hanya menginginkan kebebasan, namun ternyata di dalam tas tersebut ada sebatang coklat pemberian dari Candra. Begitu gembiranya hatiku, hingga terus saja melamunkan dirinya hingga tak terasa, jika suara adzan telah memanggilku untuk sholat Dzuhur. Rupanya cukup lama juga aku berleha-leha.

Mandi ku agar menyegarkan tubuh yang lunglai karena manja. Segar ku, diterjang oleh banyu yang dingin dengan pencampuran aroma wanita yang sedang dilanda kasmaran.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dalam kehidupanku, hingga akhirnya aku menjadi orang yang istimewa di dalam hatinya. Hingga aku akhirnya tersadar, jika ku sedang berdiri dan bersandar sambil melamunkannya. Bahkan sudah hampir setengah hari ini, ku manjakan diriku, dengan tidak terlalu banyak melakukan aktifitas yang berarti. Sesaat berfikir akan datang esok hari, dimana rutinitas akan kembali lagi seperti biasa, namun ada tambahan yang berbeda, yaitu tentang sosok dirinya yang hadir dalam bagian yang istimewa. Dirinya yang selalu membayangi dan selalu hadir dalam lamunanku dalam siang dan malam.

Jarum jam dinding selalu saja bergerak, ketika tidak diperhatikan dia malah berpindah ke lain nomer, tak sadarkah dia, kalau hari ini, aku ingin bersantai agak lama. Sekedar mengumpulkan rasa rindu ku padanya, agar esok hari aku akan siap jika bertemu dengannya.

Namun sore hari yang tak diinginkan datang, ternyata begitu indah, hingga berwana jingga merona sinarnya pada alam, terpaannya kurasakan hampir sama ketika pernah bersamanya waktu itu. Desiran angin sepoi-sepoi, begitu nyaman kurasakan hingga aku tak sadar jika matahari sudah hampir singgah ke ufuk barat. Padahal sedang asyiknya bersantai-santai, lagi-lagi aku harus memomokan oleh datangnya malam.

Di pegunungan ini, kuhirup udara yang begitu segar, hingga kurasakan aliran udara melewati pori-pori kulitku yang semenjak tadi telah merasakan senjuknya udara sore hari ini.

Cepat sekali hari libur ini berlalu, hingga datanglah kebiasaan yang ada, ketika sinar matahari mulai sirna, sang rembulan pun dengan seksama menjadi penguasa langit.

“Terimakasih untuk sore yang indah ini.” Gumamku dalam hati.

Beberapa bintang-bintang akan mulai mengintip di awan yang cerah.

Sebenarnya dengan kesindirianku disini sudah lama membuat aku terpuruk. Keinginan yang lebih baik dan indah adalah kebersamaan dengan berdua melewati hari yang ada.

Hari berganti gelap, tanpa tersadar yang kulihat di atas bukanlah lagi matahari, namun sudah berganti dengan bulan. Sinarnya yang begitu lembut menerpa berarak awan putih yang tipis membentang begitu luas. Kulihat bintang di ujung sana selalu berkelip, seakan dia bernafas, namun tak mau bicara walau ia sering memperhatikanku.

Hari ini aku tidur sambil mengintip rembulan yang sapu oleh awan putih, namun tetap berusaha untuk muncul dan memandangku.

Lelap ku kini sudah tak sadarkan diri, semoga membawa mimpi yang indah untuk malam ini.

Rutinitas kesibukan ku, akhirnya dimulai lagi, setelah satu hari kemarin, aku habiskan hanya untuk bermanja diri.

Berangkat sekolah seperti biasa dan pulang sekolah seperti biasa, namun sepertinya ada yang kurang.

Aku duduk di batu cadas yang datar, pandanganku lurus ke depan, memandang jalan letter S, seakan mampu merubah jalan tersebut menjadi lurus dan tak bertepi.

Asa ku akan kedatangannya menguat sudah. Dia yang telah mempu mengisi ke dalam relung hatiku, mengukir keindahan bercorak rindu. Kini kehampaan yang begitu kuat, tak lagi dapat kutahan. Terpuruk disini seakan sudah tidak ada yang peduli, lalu ku langkahkan kaki dengan gontai tak terarah, lalu…

“Brrrmmm” motor Candra berhenti persis di depanku. Turunlah dia dari motor lalu melepaskan jaket dan helmnya.

“Hai, Kak!! Kemana saja, Ade kangen banget sama Kakak…” Peluk Ku kepadanya yang sudah tidak mampu lagi untuk menyembunyikan rasa rinduku padanya.

“Maaf kan, Kakak ya… Kak, gak tahu jika jadinya Ade Rie, merindukan Kakak…” Ucap Candra, sambil mengelus kepala aku sampai bahu, secara berulang kali.

Nyamannya kurasakan tiada tara, goncangan jantung yang begitu kuat, di redam oleh rasa khidmat akan pelukannya yang begitu hangat kurasakan.

“Ya udah, besok ketemu lagi disini, sekarang Kakak, mau pergi dulu ya…” Dengan perlahan kulepaskan pengangan tanganku, aku lihat dia menangis.

“Kakak, kenapa?” Rasa kaget secara spontan muncul dari mulut Ku.

“Tidak apa-apa! Kakak tidak apa-apa” Tandasnya menyakinkan, bahwa dia baik-baik saja.

Dipakainya jaket beserta helm, seakan berpakaian astronot dan pergi ke bulan, hingga nanti malam dia dapat menemani ku.

Rasa rindu ku terbalas sudah, namun ada hal baru yang tidak aku ketahui, kenapa menangis.

Malam ini berlalu terlalu cepat, dan berganti menjadi pagi hari.

Seperti biasanya setelah pulang sekolah aku duduk-duduk di teras batu cadas yang datar, menjaga atau menunggu hampir tidak bisa dibedakan, yang terpenting hadirnya hari ini, merupakan harapan kedua, untuk kemudian berpelukan lagi, melepas rindu, dan juga ingin bertanya untuk perihal yang kemarin, sehingga masih mengganjal di dalam hati sampai sekarang. Namun hingga matahari memerah dan menukik ke bawah bukit, masih saja belum ada akan kehadirannya. Akhirnya pulanglah aku hingga tinggal separuh nyawa.

Esok harinya ku tunggu lagi dia di tempat biasa, namun entah kenapa dia tidak pernah muncul, bahkan sebulan sudah berlalu penantian aku akan dirinya hingga berbuah dilema rindu.

Dilema rindu kepadanya, begitu dahsyat kurasakan, hingga menimbulkan rasa sesak didada, tidak mau makan, akhirnya ku terjatuh sakit. Kini aku akan tertidur panjang, menunggu penantian akan kedatangannya, untuk kembali kepada ku… untuk membangunkanku…

TAMAT…

Baca juga Cerpen-Cerpen Silka Kamuning Apriza yang lainnya, klik : DI SINI

Facebook: Silka Apriza

Dilema Rindu Part 4 <<Cerpen Sebelumnya  | Cerpen Selanjutnya >> Sagara

Silahkan Share Artikel Ini:

About Silka Apriza

Seorang wanita yang sedang belajar menulis cerita-cerita pendek, namun masih menyembunyikan identitasnya lewat profile facebook akan tetapi ingin menuangkan dan menggambarkan imanjinasinya lewat sebuah cerpen, agar para pembaca dapat sedikit mengetahui tentang aku. Terima kasih Dedy Akas Website.

Check Also

Bunga (Perawan) Part 03

Judul Cerpen: Bunga (Perawan) Part 03 Penulis Cerpen: Tia Ayu Lestari Kategori: Cerpen Romantis Aku …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *