Home > Cerpen > Dilema Rindu (Part 2)

Dilema Rindu (Part 2)

Judul Cerpen: Dilema Rindu (Part 2)

Penulis Cerpen: Silka Kamuning Apriza

Kategori: Cerpen Cinta

Raga ku disini, namun entah kenapa sepertinya jiwa ku dibawa olehnya. Berawal dari pertemuan yang hampir menghadiahkan malapetaka, kini malah berubah 180 derajat menjadi karunia terindah. Sore ku berganti gelap gulita, namun tetap diterangi rembulan dan bintang nan jauh disana. Hamparan awan yang berarak sedikit berwarna kelabu, namun tetap tidak bisa menyembunyikan wajah rembulan untuk menerangi bumi, hampir mirip dengan ku yang ternyata hati kecil ini diam-diam sedang merindukan pria yang bernama Candra Saputra, namun tak mampu kusembunyikan.

Lelah ku kembali mengurung ku, hingga berada dalam sangkar keletihan dan peristarahatan. Hembusan angin malam sedang menggoda tirai jendela yang tersibak-sibak seakan terus melambai, agar aku tetap terjaga untuk terus mengingat sosok pria bermotor, untuk sepanjang malam ini.

 “Oh… iya, aku sampai lupa, coklat mana coklat…, tara.. ini dia”.

 “Sebatang Coklat Toblerone Putih ini, merupakan pemberian Candra Saputra, harus kah aku memakan dan melumatnya sampai habis, hanya untuk malam ini saja, sehingga esok hari, aku pasti merindukan akan manisnya pemberian Candra Saputra”. Gumamku dalam hati.

 “Astaga apa yang terjadi? Kenapa aku terus memikirkannya, rasa apa ini? Ketika sewaktu ketemu gemetar, ketika ditinggal berbuah rindu. Sungguh rasa yang sangat aneh.” Ku rebahkan badan ku yang semenjak tadi sudah tidak tahan ingin di istirahatkan.

Lelapnya tidur, tidak mampu lagi membuat ku terbangun sekalipun ada suara petir atau guntur.

Lagi-lagi suara ayam berkokok, membuat ku terbangun dari lelapnya tidurku yang sudah menelan malam hari, hingga terukir pagi hari yang jingga.

 “Duh, sepertinya aku akan terlambat”. Kataku sambil memitakan tali sepatu.

Tak kusangka, karena kebanyakan melamunkan sosok seorang pria pemberi rindu, mampu membuatku agak sedikit terlambat dari biasanya, hingga ku berlari dari rumah untuk mencapai pertigaan jalan raya tersebut.

 “Ya… ampun angkot pada kemana si, gak biasanya sepi begini”. Mungkin aku sedang apes hari ini, angkot yang ditunggu, tidak kunjung tiba untuk membawaku dari galau ini, bahkan jam tangan-pun seakan memberikan tanda, karena arah jarumnya sudah hampir menunjukkan masuk jam sekolah.

 “Brrmmm…” Suara motor yang sepertinya aku kenal, dan ternyata benar saja, itu adalah Candra Saputra, dalam sekejap sudah berada di belakangku.

 “Hai sedang apa, kok sepertinya gelisah?” Tanya Candra.

“Oh… ini Can, sepertinya angkot yang ku tunggu tidak kunjung datang, sedangkan sekarang sudah hampir mau masuk jam sekolah”. Jawab ku dengan nada galau.

 “Ya udah… aku anter yuk, Sekolahnya yang di ujung jalan raya sana kan? Balas Candra, sambil menawarkan untuk membonceng aku.

 “O, iya boleh” jawab ku singkat.

Daya pacu motornya begitu kuat dan cepat, segagah yang membawanya, maklum saja Candra Saputra orang selain tampan, juga gagah, dan aku yakin kalau badannya agak six pack.

 “Brrrmmm…”, “Nih sudah sampai” Kata Candra sambil menoleh ke arah ku, yang semenjak tadi masih memegang badannya kuat dan kekar.

Turun ku dari motornya, “Terima kasih Candraaa…” Kata ku, sambil aku berlari dengan kencang, karena gerbang sekolah sedang menutup dengan perlahan.

 “Pak… Pak… tahan-tahan” Akhirnya bebas juga, aku tidak jadi terlambat.

“Tumben Nak Rianty terlambat, biasanya selalu meluang waktu yang cukup sebelum masuk sekolah” Perkaatan yang keluar dari seorang paruh baya penjaga gerbang sekolah, namanya Pak Iman. Agak sedikit heran rupanya Pak Iman itu. “Iya Pak, saya juga enggak tahu kenapa, bisa terlambat”. Jawab ku sambil melangkah menjauh darinya, karena aku harus cepat bergegas sampai di kelas.

Tidak ada yang PR dan tidak kegiatan yang mampu menguras tenagaku hari ini, sepertinya keadaan sedang berbaik hati, karena dapat mengobati rasa galau ku dipagi hari tadi dan selanjutnya mendapatkan situasi dan kondisi yang cukup kondusip.

 “Teng… Teng… Teng…” Bel sekolah sudah berbunyi, dan lapangan sekolah yang tadinya kosong melompong tanpa pemandangan yang berarti, kini berubah menjadi warna putih abu-abu, dan melenyapkan hingga meluberkan warna putih abu-abu tersebut sampai ke ujung gerbang sekolah.

 “Astaga kenapa dia ada disini”, Langkah riangku, menjadi sedikit agak kikuk, karena pancaran pandangan matanya.

 “Hai Rie…” Panggil Candra, sambil melambaikan tangganya.

Wajahku yang tadinya agak sedikit menunduk, kini kunaikkan dan melihat kearahnya, ternyata dia memanggilku.

“Ada apa ya” Gumamku dalam hati.

 “Kamu mau pulang, saya anter yuk!!” Tawarnya kepada ku, semakin membuatku bertambah gemetar, yang sudah semenjak tadi ku sembunyikan dan dag-dag-dig pun semakin menjadi.

 “Loh, kenapa aku mesti di antar sama kamu, aku kan bisa naik angkot, sudah biasa kayak gitu kok.” Tolak ku, yang sebenarnya tidak ingin ku katakan.

 “Hemm… kenapa Rie, kok nolak, yah udah, kalau gitu aku tinggal ya…” Jawab Candra, yang apa adanya, namun sanggup membuatku hilang kendali dan lepas kontrol, hingga berbuah teriakan (“Jangaannn…”) dalam hayalku.

 “Ups, mm… boleh deh,” Kata ku seraya menahan gerakan tangannya pada konci motor, yang sudah terlancur berhasil ditancapnya dan menghidupkan motornya.

BERSAMBUNG…

Baca juga Cerpen-Cerpen Silka Kamuning Apriza yang lainnya, klik : DI SINI

Facebook: Silka Apriza

Dilema Rindu Part 1 <<Cerpen Sebelumnya  |  Cerpen Selanjutnya >> Dilema Rindu Part 3

Silahkan Share Artikel Ini:

About Silka Apriza

Seorang wanita yang sedang belajar menulis cerita-cerita pendek, namun masih menyembunyikan identitasnya lewat profile facebook akan tetapi ingin menuangkan dan menggambarkan imanjinasinya lewat sebuah cerpen, agar para pembaca dapat sedikit mengetahui tentang aku. Terima kasih Dedy Akas Website.

Check Also

Bunga (Perawan) Part 03

Judul Cerpen: Bunga (Perawan) Part 03 Penulis Cerpen: Tia Ayu Lestari Kategori: Cerpen Romantis Aku …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *