Breaking News
Home > Cerpen Remaja > Arti Seorang Anak-Part 2

Arti Seorang Anak-Part 2

Arti itu sangat berarti bagi setiap manusia. Jika kita selalu mempunyai penyakit khilaf.

***

Di sebuah mobil. Seorang pria mengemudi dengan fikiran kacau.

Ia sangat mengkhawatirkan adiknya. Ia tidak bisa tenang jika ia tidak bisa mengetahui adiknya dimana.

Sudah berkali – kali ia memutari jalanan ini dan ia buntu. Saat ia termenung di dalam mobilnya.

Ia di kagetkan dengan dering telpon yang memekakkan telinga.

Tadinya ia ingin membiarkannya. Tetapi sang penelpon tidak menyerah juga, sehingga iya mau tidak mau mengangkatnya.

Arti Seorang Anak
Arti Seorang Anak

Saat pertama kali ia angkat terdengar suara gemerisik dan suara panik.

“Hallo!!”

“Maulana, kamu harus pulang nak.” Terdengar suara panik Daddynya.

“Ada apa Dad?” “Mommy kamu pingsan. CEPAT!!!” Dengan kata penekanan di akhir katanya.

Akhirnya ia mengemudi dengan kecepan tinggi.

Setelah sampai di halaman rumah. Ia langsung bergegas ke masuk ke dalam rumah.

“Dad. Bagaimana keadaan Mommy?” Tanya ku panik saat melihat Mom pucat dan terus memanggil nama adiknya.

“Dad, pikir kita biarkan adik kamu belajar sendiri. Tetapi. Dad tidak menduga Mommy kamu sampai sakit bahkan ia terus mengigau nama adik kamu terus. Dad gak bisa lihat Mom kamu seperti ini. Sebaiknya kau cari tahu dimana adik kamu Maulana?”

“Baiklah Dad!! Aku akan meminta detektif teman ku, aku pergi dulu Dad.”

***

Di kota Malang. Pukul 18:32 malam

Sementara di sebuah kamar kost yang sangat kecil. Seorang gadis yang sangat di khawatirnya.

Membuka jilbab nya, ia tak pernah berani membuka hijab nya jika di depan siapapun. Ia belum siap jika semua orang tahu. Keadaanya dan ia tidak ingin orang kasian padanya.

Itu salah satu alasannya. Dan ia juga tidak ingin membuat orang khawatir padanya.

Ia tak menyadari jika ada seseorang masuk dan melihat itu.

Sementara gadis di depan cermin perlahan menyisir rambutnya yang tinggal beberapa helai dengan bayangan entah kemana.

Mata itu memang memandang cermin tetapi tatapan itu kosong. Seperti tidak bernyawa.

Ia memikir kan keluarga nya, yang di Jakarta. Ia sangat mengkhawatirkan kedua orang tua nya. Ia memang anak yang tidak tahu di untung dan tidak bisa membalas kebaikan orang tuanya.

Ia sangat-sangat menyayangi mereka tetapi ini jalan yang tepat baginya.

“Mom . Maafkan Mala Mom. Mala memang anak yang tidak tahu diri. Yang hanya menyusahkan mu. Tetapi… hiks… Mala tidak ingin Mom tahu bahwa Mala tidak seceria yang kalian tahu… hiks… Mala tidak ingin Mom sedih Melihat keadaan ku… hiks… Mungkin ini jalan yang tepat untuk semua nya.” Ucapnya dengan air mata yang terus mengalir.

Bahkan ia sendiri tidak sadar darah yang mengalir di kedua hidung nya.

Seseorang yang memperhatikan itu panik dan langsung mengambil tisu di tasnya.

Ia mendekat dan tanpa meminta persetujuan sang empu ia langsung menghapus darah di hidung gadis itu.

Sedangkan orang itu sendiri syok dan gak percaya bahwa ada seseorang.

Ia berusaha menutupi kepalanya tetapi di cegah oleh sahabat nya.

“Gak perlu Mal, Kapan?” Cegahnya tanpa menjelaskan alasannya justru ia menannyakan sesuatu yang sedari tadi ia tahan.

“Gak , A… Aku gak kenapa-kenapa ko Tyaz.” Elaknya.

“Kenapa Mal? Kenapa Mal? Kau anggap aku apa Mal… hiks… kenapa kau tutupi semua ini Mal… hiks” ia sudah tidak bisa menahan air matanya. Saat pertama kali ia melihat sahabat nya menderita sendirian.

“Pergilah Yaz!!” Ucapnya datar. Ia berusaha menahan ia gak mau lemah.

Tanpa perduli ucapannya. Ia berjalan mendekat dan memeluk sahabatnya.

“Kamu sudah bagian dari hidupku Mal. Kamu… hiks… Sudah ku anggap adik ku Mal… hiks… Ku mohon jangan berusaha tutupi apapun dari aku Mal!!” Dengan sesenggukan ia mengucap semua itu.

Ia tak bisa menahan air mata lagi setelah mendengar kata-kata sahabatnya.

“Hiks… Aku… Gak bisa berterus terang… Aku tidak ingin… hiks… Membuat kalian khawatir.” Jawabnya masih dengan berpelukan.

Ia beruntung masih ada sahabatnya yang menerima ia apapun keadaannya.

“Sudah berapa lama Mal?” Tanyanya setelah tangisnya reda.

“Sudah cukup lama, Tyaz awal nya dulu aku sering sakit kepala dan sakit perut. Aku pikir itu hal biasa karena aku suka telat makan terus. Tetapi ternyata tidak. Semakin hari semakin lama sakit di kepalaku semakin terasa nyeri. Awalnya aku gak peduli. Dan aku membiarkan semua itu. Toh selama ini aku memang memakai hijab bahkan di dalam Rumah sekalipun. Ketika ingin mandi saja aku membuka nya. Semakin hari ternyata semakin parah akhirnya. Aku kedokter tanpa sepengatahuan siapapun. Dan disitu aku baru mengetahui bahwa aku kanker otak Tyaz. Aku berusaha menutupi dari semuanya. Aku berusaha untuk kuat. Tetapi aku hanya manusia biasa. Aku hanya wanita biasa yang banyak kekurangan. Akhirnya permasalahan. Yang membuat aku memutuskan untuk pergi. Karena aku pikir ini yang terbaik. Setidaknya aku bisa menutupi semua ini dari keluarga ku” Jawabku panjang lebar dengan tatapan kosong. Bahkan karena terlalu sakit air mata ini seakan lelah tuk keluar.

“Hiks… hiks… Kenapa Mal… kamu pernah berfikir gak jika cara kamu membuat sebuah penyesalan… hiks… Buat keluarga kamu… hiks… Mereka akan sangat menyesal bila tidak mengetahui anaknya sendiri… hiks… Melawan sakit… Sendiri!!” Ia lebih rela bila sahabatnya. Menangis itu akan membuat sahabatnya melepaskan semua beban. Tetapi yang ia lihat hanya tatapan kosong dan raut wajah yang sulit di artikan.

“Aku gak mampu Tyaz. Jika aku berada di dekat mereka akan membawa masalah. Dan aku gak mau itu. Aku lebih memilih mengalah. Aku lebih baik sakit. Daripada melihat keluarga ku sakit Tyaz.” Bahkan kini ia melepas hijab nya kembali dan membiarkan rambut nya yang tinggal beberapa helai terlihat sahabat nya. Toh ia sudah tahu juga.

Sedangkan wanita yang di ajak bicara. Sudah tak mampu berkata ia langsung memeluk sahabatnya kembali.

“Hiks… hiks… Aku gak mau di kasihani… Aku gak mau orang melihat ku lemah Tyaz.” Terdengar tangisan yang sangat memilukan.

Ia membiarkan air mata sahabatnya keluar. Ia membiarkan sahabatnya menuangkan semuanya itu akan mengurangi beban di pundaknya selama ini.

Ia sendiri tidak bisa berkata. Ia sudah kehabisan kata.

“Mala, please aku mohon dengar kan aku!! Mungkin ini cara terbaik bagimu. Apakah kamu tidak memikirkan perasaan ibu kamu. Bukan aku mendoakan yang buruk. Terkadang sesuatu terjadi bisa hadir kapanpun Mal. Dan jika kelak kamu telat mengetahuinya maka akan sangat-sangat Menyesal Mal. Itu juga yang akan di rasakan keluarga kamu Mal” Nasihatnya.

Yang di nasihati diam termenung. Memikirkan setiap kata yang terucap dari sahabat yang ia anggap kakaknya.

Terkadang sesuatu rahasia. Jika kita tutupi tak pernah bisa bertahan lama karena yang namanya bangkai pasti akan tercium juga.

The end ( Part 2 )

Cerpen Arti Seorang Anak (Part2) adalah cerita pendek karangan Maula Nur Baety, pembaca dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya dengan mengklik namanya.

Silahkan Share Artikel Ini:

About Maula N. Baety

Seorang wanita biasa yang hobby membaca dan menyalurkan imajinasinya lewat sebuah Cerita - Cerita Pendek. Supaya para pembaca bisa mengenal aku

Check Also

Penantian Sebuah Janji - Pixabay

Penantian Sebuah Janji

Cinta yang telah diikat dalam sebuah janji. Janji yang telah dibangun sejak lama, janji yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *